BPWS Fasilitasi penghuni Pulau Oksigen : Gili Iyang


Gili Iyang
Gili Iyang Sumenep
Rasanya tidak ada lelah tubuh ini untuk terus mengeksplor keindahan-keindahan yang ada dibumi Madura, setelah sehari sebelumnya saya dan rombongan blogger #MenduniakanMadura mengeksplor tempat-tempat wisata dan pembangunan yang dilakukan oleh Badan Pengembangan Wilayah Surabaya-Madura (BPWS) di Kabupaten Bangkalan dan Sampang. selanjutnya saya menuju Kabupaten Sumenep ada beberapa tempat yang akan saya kunjungi yang pertama adalah Pulau dengan kadar Oksigen terbaik kedua didunia yaitu Gili Iyang lalu yang kedua adalah Bandar Udara Trunojoyo dan yang ketiga berkunjung ke Potensi Produk Unggulan Sumenep: Petani Rumput Laut, Saronggi.

Gili Iyang
Penyebrangan dari pelabuhan Dungkek menuju Gili Iyang

Perjalanan dimulai dari pelabuhan dungkek dengan sebuah perahu penyebrangan menuju Gili Iyang. ada dua perahu yang kami sewa karena ada 60 orang yang akan menyebrang butuh waktu sekitar 45 menit untuk sampai ke Gili Iyang, selama perjalanan laut tidak saya manfaatkan untuk tidur tetapi saya manfaatkan untuk merekam momen selama perjalanan karena menurut saya sangat disayangkan jika perjalanan ini tidak saya abadikan.

45 menit berlalu, perahu sudah berada dibibir pelabuhan saatnya saya turun dan mulai mengeksplor keindahan yang ada dipilau ini, eit... jangan lupa saya diajak kesini itu selain berwisata juga untuk melihat pembangunan yang dilakukan BPWS dipulau ini mulai dari jalan paving, penerangan dan penampungan Air PDAM.

Dorkas
Dorkas / Odong-odong
Setelah turun dari perahu saya dan rombongan sudah ditunggu oleh alat transportasi spesial ala gili iyang karena memang transportasi ini saja yang ada dipulau ini, masyarakat disini menyebutnya Dorkas. keseruanpun terlihat dari wajah-wajah para blogger yang berbaris dengan menaiki dorkasnya masing-masing semacam konvoi gitu, dorkas inilah yang akan menemani perjalanan saya selama dipulau ini pertama saya beserta rombongan dibawa menuju ke Homestay yang juga dibagun oleh BPWS untuk istirahat sejenak dan menyimpan barang-barang sebelum makan siang.

Makan Siang khas Makanan Madura
setelah itu saya menuju kerumah salah satu rumah penduduk yang dengan dengan pantai ropet katanya sih rumah juru kunci pantai ropet tapi saya lupa menanyakan namanya siapa. disana saya beserta para blogger makan siang makanan yang disuguhkan adalah makanan khas Madura ada Ubi Jalar dengan Gula Siwalan, ada sayur daun kelor, nasi jagung, ikan laut yang ditangkap dari perairan gili iyang dan beberapa menu khas Madura lainnya. kok saya jadi laper yaa...

Goa Mahakarya Gili Iyang
Goa Mahakarya (Goa Celeng) Gili Iyang
perjalanan dilanjutkan menuju Goa Mahakarya yang awalmula masyarakat disana menyebutnya Goa Celeng, untuk sampai ketempat ini saya beserta para blogger harus masuk kejalan plosok kira-kira 500 meter dari tempat kita turun dari dorkas karena jalanan sempit maka saya harus jalan kaki. goa ini sangat cantik dan potensial untuk dijadikan tempat wisata karena stalaktit dan stalakmit yang ada didalam goa banyak yang masih aktif dan bebatuan yang ada didalam sangat indah sekali karena memancarkan cahaya seperti belian, namun sangat disayangkan karena didalam goa sangat sedikit penerangan dan juga jalan akses menuju menuju goa ini sangat sempit dan berbatu karena melihat anemo para wisatawan yang datang ke pulau dan goa ini sangat banyak perlu kiranya BPWS memfasilitasi penerangan didalam goa dan memperbaiki jalan menuju goa ini.

Fakta Unik yang ada di Gili Iyang
1.
Lapan melalukan riset selama enam bulan di Giliyang dengan berpindah dari satu titik ke titik yang lain. Akhirnya ditemukan 17 titik oksigen yang masih dirahasiakan (1 dibocorkan masyarakat ke Plat-M)
2.
Oksigen di Giliyang baru dapat dirasakan pada dini hari setelah pukul 01:00 hingga sebelum subuh.  Jam 03:30 oksigen terasa seperti tertiup AC dengan intensitas yang sangat kecil
3.
Paving, homestay dan pengaliran air bersih di Giliyang difasilitasi oleh BPWS
4.
Siwalan dapat diolah menjadi Gula di  Gili Iyang.


Air Terjun Toroan dan Budaya Carok di Madura



Air Terjun Toroan
Air Terjun Toroan - Foto : pinterest.com
Memasuki hari kedua acara FamsTrip bersama Plat-M untuk manapaki Jejak BPWS di Madura yang menjadi tujuan pertama dihari kedua ini yaitu wisata Air Terjun Toroan.
Air terjun Toroan Sampang adalah satu–satunya air terjun yang berada di kota Madura. Air terjun setinggi 20 meter ini berlokasi berdampingan dengan sebuah pantai. Hal inilah yang menjadikan air terjun ini berbeda dengan air terjun pada umumnya. Selain itu, suasana di sekeliling Air Terjun Toroan juga masih sangat natural, dimana di sekitar lokasi tidak ada bangunan bangunan yang merusak kealamiannya. Hal itulah yang menjadikan air terjun  ini seakan memiliki “jiwa” yang masih hidup.

Air tawar yang mengalir dari atas air terjun langsung menyatu dengan air laut yang berada di sebuah muara. Keunggulan dari tempat wisata ini adalah kesegaran air yang dimilikinya, yang dikelilingi dengan pepohonan yang sangat rindang. Aliran air yang dibawanya berasal dari sungai Payung yang berada di Kecamatan Timur Kota Sampang.

Tepat di lokasi air terjun terdapat batu – batuan yang unik dan pasir putih di sepanjang bibir pantai, perpaduan yang sangat menakjubkan. namun saya peringatkan kepada teman-teman bahwa Air Terjun Toroan tidak boleh dibuat berenang karena terdapat palung yang sangat dalam. Sudah ada beberapa korban meninggal karena nekat berenang ataupun terjatuh.

Ilustrasi Carok Menduniakan Madura

Budaya Carok di Madura
Buaya Carok
Setelah mengeksplor wisata Air Terjun Toroan dan mengabadikannya dalam bentuk gambar dan video para peserta FamsTrip langsung menuju spot berikutnya yaitu TPI Pasongsongan. namun dalam perjalanan saya sebagai panitia ditunjuk sebagai aktor untuk memperkenalkan budaya carok yang sebenaranya yang telah menjadi budaya di Pulau Madura akan tetapi budaya itu mulai dikenal dengan sebuah kekerasan yang melekat pada diri orang Madura sehingga orang Madura memiliki pandangan yang sangat negatif dimata orang-orang yang berada diluar Pulau Madura. kronologi pengenalan carok ini dimulai dengan sebuah adegan penyegatan Bus Pariwisata yang membawa rombongan FamsTrip yang didalamnya sudah ada aktor kedua sebagai korban ( Vicky Faisal ) oleh sebuah mobil Avanza yang saya tumpangi, tepat dijalan raya yang lumayan lebar dan sepi adegan itu dimulai lalu Bus yang dicegat itu langsung menginjak rem secara mendadak yang membuat rombongan kaget seketika, lalu keluar dari mobil dengan wajah garang bak penuh amarah dengan membawa Sekep Are' ( senjata yang diselipkan dipinggang berupa celurit) dan mengedo-gedor pintu bus dan menghampiri korban lalu mengklarifikasi atas masalah keluarga yang saya alami yaitu menanyakan sejauh mana hubungan perselingkuhan antara korban dengan istri saya yang merupakan titik permasalahan namun si korban mengelak dan saya langsung mengeluarkan dua Celurit, satu untuk saya berikan kepada korban dan satunya untuk saya sendiri dengan mengacung-acungkan lalu menetapkan kesepakatan tanggal dan hari kapan akan dilaksanakannya carok tersebut apabila korban masih mengelak maka seketika itu pula carok bisa terjadi.

untuk lebih jelasnya mari kita baca penjelasan pendek mengenai budaya carok dan sepeti apa penyebab dan syarat untuk melakukan budaya itu.

Budaya Carok
Carok dalam bahasa Kawikuno artinya perkelahian. Biasanya melibatkan dua orang atau dua keluarga besar. Carok adalah sebuah pembelaan harga diri ketika diinjak-injak oleh orang lain, yang berhubungan dengan harta, tahta, dan wanita. Intinya adalah demi kehormatan, Sebenarnya budaya carok yang sudah menjadi ikon bagi orang Madura, sampai detik ini masih belum jelas asal-muasalnya. Berdasarkan legenda rakyat, adalah bermula dari perkelahian antara Pak Sakera dengan dua bersaudara, Markasan dan Manbakri, yang antek-antek Belanda. Pada abad ke-18 M.Setelah Pak Sakera tertangkap dan dihukum gantung di Pasuruan, JawaTimur,

Penyebab Eksistensi Carok
1.
Alam yang gersang. Teror eceran berbentuk carok merajalela akibat alam gersang, kemiskinan, dan ledakan demografis. Pelembagaan kekerasan carok terkait erat dengan mentalitas egolatri (pemujaan martabat secara berlebihan) sebagai akibat tidak langsung dari keterpurukan ekologis (ecological scarcity). Lingkungan sosial mengondisikan lelaki Madura merasa tidak cukup hanya berlindung kepada Tuhan. Konsekuensinya senjata tajam jadi atribut ke mana kaum lelaki bepergian yang ditunjukkan dengan kebiasaan ”nyekep”. Senjata tajam dianggap sebagai kancana sholawat (teman shalawat).
2.
Persetujuan sosial melalui ungkapan-ungakpan. Ungkapan-ungkapan Madura memberikan persetujuan sosial dan pembenaran kultur tradisi carok. Ungkapan-ungkapan tersebut diantaranya : Mon lo’ bangal acarok ja’ ngako oreng Madura (Jika tidak berani melakukan carok jangan mengaku sebagai orang Madura); oreng lake’ mate acarok, oreng bine’ mate arembi’ (laki-laki mati karena carok, perempuan mati karena melahirkan); ango’an poteya tolang etembang poteya mata (lebih baik berputih tulang [mati] daripada berputih mata [menanggung malu]).
3.
Proteksi berlebihan terhadap kaum wanita. Carok refleksi monopoli kekuasaan laki-laki. Ini ditandai perlindungan secara berlebihan terhadap kaum perempuan sebagaimana tampak dalam pola pemukiman kampong meji dan taneyan lanjang. Solidaritas internal antar penghuni kampong meji sangat kuat sedangkan dalam lingkup sosial lebih luas solidaritas cenderung rendah. Pelecehan atas salah satu anggota komunitas dimaknai sebagai perendahan martabat seluruh warga kampong meji.
4.
Taneyan lanjang (halaman memanjang), memberikan proteksi khusus terhadap anak perempuan dari segala bentuk pelecehan seksual. Semua tamu laki-laki hanya diterima di surau yang terletak di ujung halaman bagian Barat. Martabat istri perwujudan dari kehormatan kaum laki-laki karena istri dianggap sebagai bantalla pate (alas kematian). Mengganggu istri merupakan bentuk pelecehan paling menyakitkan bagi lelaki Madura
4.
Upaya meraih status sosial. Carok oleh sebagian pelakunya dipandang sebagai alat untuk meraih status sosial di dunia blater. Kultur blater dekat dengan unsur-unsur religio-magis, kekebalan, bela diri, kekerasan, dunia hitam, poligami, dan sangat menjunjung tinggi kehormatan harga diri. Blater, memiliki peran sentral sebagai pemimpin informal di pedesaan. Figur blater sejajar posisinya dengan figur kyai (Madura : keyae) sebagai sosok pemimpin informal di Madura Bahkan banyak di antara mereka yang menjadi kepala desa. Tentu saja, masyarakat cenderung takut, bukan menaruh hormat, kepada kepala desa bekas blater itu, mengingat asal-usulnya yang kelam. Tidak seperti figur kyai yang disegani dan dihormati karena kemampuannya dalam keagamaan.
6.
Blater di Madura juga kerap dihubungkan dengan remo. Tradisi remo (arisan kaum blater) merupakan institusi budaya pendukung dan pelestari eksistensi carok. Remo berfungsi ganda, sebagai tempat transaksi ekonomi, sekaligus penguatan status sosial. Juga merupakan sarana untuk membangun jaringan sosial di kalangan bromocorah. Remo bisa mengumpulkan uang dalam jumlah besar dalam tempo semalam.
Prasyarat Carok
Persiapan untuk melakukan carok, termasuk memenuhi 3 syarat utama, yaitu kadigdajan, tampeng sereng, dan banda.
1.
Kadigdajan (kapasitas diri) adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan kesiapan diri secara fisik dan mental. Prasyarat fisik dapat berupa penguasaan teknik bela diri. Prasyarat mental, pengertiannya lebih terkait dengan apakah orang tersebut punya nyali, angko (pemberani), ataupun juga jago.
2.
Tampeng sereng, menyangkut kepemilikan kekuatan yang diperoleh secara non-fisik, seperti membentengi diri sehingga kebal terhadap serangan musuh. Untuk maksud ini, pelaku carok meminta bantuan seorang “kiai”, yang akan melakukan “pengisian” mantra-mantra ke badan pelaku carok. Aktifitas berkunjung ke seorang ”kiai” ini disebut nyabis.
3.
Prasyarat ketiga adalah tersedianya banda (dana). Dalam konteks ini, carok mempunyai dimensi ekonomi, karena carok membutuhkan banyak biaya. Biaya diperlukan antara lain untuk melakukan persiapan mental dengan menebus mantra-mantra yang diperlukan, dan membeli celurit dengan kualitas nomor satu, dan juga diperlukan sebagai persiapan untuk menyelenggarakan kegiatan ritual keagamaan bagi pelaku carok yang kemungkinan terbunuh (selamatan 7 hari, 40 hari, 100 hari, hingga 1000 hari sejak kematian). Selain itu, juga untuk biaya hidup sanak keluarga (istri dan anak) yang kemungkinan ditinggal mati atau ditinggal masuk penjara. Untuk pelaku carok yang masih hidup, maka dana dibutuhkan untuk nabang
Nah itulah penjelasan mengenai Budaya Carok yang  sebenarnya di Madura, semoga penjelasan diatas memberikan  gambaran luas untuk mengubah pemikiran negatif terhadap orang Madura pada umumnya.

Kembali ke FamsTrip....

TPI Pasongsongan
Foto Bersama Pengelola TPI Pasongsongan
Perjalananpun dilanjutkan menuju TPI Pasongsongan untuk melihat kondisi pelabuhan ikan terbesar yang ada di Madura yang dikelola langsung oleh Provinsi Jawa Timur, disini kami yang melihat-lihat saja aktifitas nelayan dan para pelelang ikan karena waktu yang kami punya hanya 15 menit saja sedangkan perjalanan kami hari ini masih panjang dan membutuhkan waktu lama untuk sampai ke lokasi karena harus menggunakan perahu.

dimanakah tempat selanjutnya yang akan kita kunjungi? penasaran ya.. Trip selanjutnya adalah Gili Iyang yang terkenal dengan Pulau Oksigen Terbaik kedua dunia itu. namun cerianya tidak disini tapi dipostingan berikutnya BPWS Fasilitasi penghuni Pulau Oksigen : Gili Iyang

Jejak BPWS Menduniakan Madura


kawasan rest area BPWS
kawasan Rest Area
Jembatan Surabaya - Madura atau lebih dikenal dengan Jembatan Suramadu yang menghubungkan Pulau Jawa dan Pulau Madura. Jembatan ini merupakan jembatan terpanjang di Indonesia dengan panjang 5.438 m. Pembangunan Jembatan Suramadu dimulai pada 20 Agustus 2003 dan diresmikan pada 10 Juni 2009.
Pembangunan Jembatan Tol Suramadu diharapkan akan mendorong percepatan pengembangan sosial ekonomi dan tata ruang wilayah-wilayah tertinggal yang ada di Pulau Madura. Sebagai tindak lanjut dari upaya tersebut diatas, maka Pemerintah menerbitkan Peraturan Presiden Nomor 27 Tahun 2008 tentang Pembentukan Badan Pengembangan Wilayah Surabaya-Madura (BPWS),

yang secara struktural terdiri atas Dewan Pengarah dan Badan Pelaksana. Peraturan perundang-undangan ini kemudian disempurnakan dengan Peraturan Presiden Nomor 23 Tahun 2009 tentang Pembentukan Badan Pengembangan Wilayah Surabaya-Madura (BPWS)  untuk lebih mendukung peningkatan kinerja BPWS didalam pelaksanaan tugas dan fungsinya sebagaimana termaksud didalam peraturan perundangan tersebut diatas.

Badan Pelaksana BPWS (Bapel BPWS), sesuai dengan amanah Perpres 27 Tahun 2008 diatas, memiliki tugas dan fungsi untuk melaksanakan pengelolaan, pembangunan dan fasilitasi percepatan kegiatan pembangunan wilayah Suramadu.

Kegiatan pengelolaan dan pembangunan infrastruktur wilayah yang dilaksanakan Bapel BPWS dilaksanakan di 3 (tiga) kawasan, yaitu Kawasan Kaki Jembatan Sisi (KKJS) Surabaya (600 Ha), Kawasan Kaki Jembatan Sisi (KKJS) Madura (600 Ha) dan kawasan khusus di Utara Pulau Madura (600 Ha). Kawasan Kaki Jembatan Sisi Surabaya (KKJSS) dan Kawasan Kaki Jembatan Sisi Madura (KKJSM) dikembangkan untuk mendorong perkembangan ekonomi, sedangkan kawasan khusus di Utara Pulau Madura untuk pengembangan kawasan Pelabuhan Peti Kemas.

Selain melaksanakan tugas dan fungsi di atas, Bapel BPWS juga bertugas untuk stimulasi pembangunan infrastruktur untuk wilayah Suramadu secara keseluruhan. Dalam hal ini Bapel BPWS melakukan koordinasi perencanaan dan pengendalian pembangunan infrastruktur yang dilaksanakan Kementerian/LPNK lain, pemerintah daerah (provinsi dan kabupaten/kota), maupun swasta/masyarakat di wilayah Madura

KKJSM ( Kawasan Kaki Jembatan Suramadu sisi Madura ) 
Master Plan KKJSM
Master Plan KKJSM - Foto : ruangbelajarcj
Setelah berhasil membebaskan lahan di sisi Kaki Kaki Jembatan Sisi Madura (KKJSM) seluas 26,5 Ha, BPWS mulai membangun lahan yang sudah dibebaskan tersebut untuk Pembangunan Rest Area. Pembangunan ini diawali dengan Pekerjaan Jalan Lingkungan yang pekerjaannya dimulai bulan Agustus hingga akhir Desember Tahun 2016, adapun Pekerjaan Jalan Lingkungan ini terdiri dari 2 kontruksi : Konstruksi Aspal dengan panjang jalan ± 400 m dan Konstruksi Paving dengan panjang ± 800 m, dengan lebar jalan 10 m. Di sisi Kanan dan Kiri juga dibangun drainase, total keseluruhan dari pekerjaan ini sepanjang 1,2 km. Adapun pekerjaan Jalan Lingkungan ini terletak di Desa Pangpong Kecamatan Labang Kabupaten Bangkalan yang akan memiliki manfaat untuk : akses ke foodcourt, ke anjungan Madura dan ke Islamic centre, dan akan dikerjakan secara bertahap sampai pembangunan Rest Area ini selesai secara keseluruhan.

Hari Pertama Menduniakan Madura 
FamsTrip Promosi Kawasan Suramadu (KKJSM dan KKM) dan Produk Unggulan Madura Melalui Blog
menduniakan madura
Foto dikawasan Rest Area
Setelah mengikuti acara pembukaan di Kantor BPWS 35 blogger yang berasal dari seluruh Indonesia ini langsung mengunjungi kawasan res area yang berada di KKJSM untuk melihat langsung lahan dan pembangunan yang sedang berjalan, nantinya dikawasan ini akan ditempati oleh para pedangan yang semula berada di pinggiran jalan Suramadu agar lebih tertata rapi dan menarik untuk para wisatawan yang berkunjung ke Madura.

Kawasan Khusus Madura ( KKM )
lalu dilanjut perjalanan menuju Kawasan Khusus Madura ( KKM ) yang berada di Kecamatan Klampis. pada kawasan ini nantinya akan dibangun pelabuhan sebagai kawasan industri dan pergudangan pendukung pengembangan pelabuhan peti kemas tanjung bulu pandan. sedangkan kegiatan dalam KKM ini diarahkan pada Industri, Pergudangan, perdagangan dan Jasa serta Permukiman. namun belum tahu kapan pembangunan ini akan dimulai semoga tidak hanya masterplan saja yang dipangpang dan Masyarakat Madura harus mendukung pembangunan ini demi kemajuan perekonomian Pulau Madura dan Negara.

Hutan Kera Nepa Sampang
Hari mulai sore sedangkan perjalanan masih panjang Vicky Faisal ( Owner Madura Indah Wisata ) selaku Guide pada FamsTrip ini lansung mengarahkan rombongan untuk kembali menaiki Bus Pariwisata yang difasilitasi oleh Mandala Putra Travel menuju Hutan Kera Nepa. sesampainya disana semua blogger langsung disambut oleh warga menuju homestay yang akan kita tempati untuk menginap pada malam harinya, namun para blogger sepertinya sudah tidak tahan untuk bertemu dengan kawan-kawannya dihutan sana, mereka hanya menaruh barang-barang pribadi dihomestay dan langsung berbondong-bondong menuju hutan kera. kurang lebih 1 Km jarak antara homestay dengan Hutan Kera dengan melewati Pantai Nepa.

Hutan Kera Nepa
Pintu Masuk Hutan Kera Nepa - Foto: Wulan Kenanga
 Baru didepan pintu masuk saja saya dan blogger yang lain sudah disambut oleh beberapa kera yang ganteng dan cantik. ditemani oleh juru kunci kami memasuki hutan kera ada beberapa cara agar kera-kera yang ada didalam hutan mau keluar bisa dengan menggunakan mantra khusus untuk memanggil mereka keluar yaitu dengan cara meneriakkan kata kunci ini "Lo Laliloooo..." maka dengan seketika satu persatu kera-kera itu berdatangan. menurut juru kunci hutan kera biasanya kera yang keluar tidak sebanyak saat itu (waktu kita kesana) paling hanya beberapa kera saja yang keluar mungkin karena teman-teman blogger pada manngil semua kali ya! hehe
dan juga juru kunci itu menjelaskan bahwa kera yang ada dihutan nepa ini terdiri dari dua kubu (Kelompok/Geng) ada kubu timur dan kubu barat, konon apabila penghuni kubu timur masuk pada kubu barat besar kemungkinan tidak bisa kembali lagi pada kubunya sendiri entah dibunuh atau dibuat sandra saya tidak paham dan begitu pula sebaliknya.

Hutan Kera Nepa
Padepokan yang ada didalam Hutan Kera Nepa - Foto: Wulan Kenanga
perjalanan tidak hanya berhenti di hutan bagian luar saja, kami masih menyusuri hutan kera sampai kedalam hutan, dipertengahan hutan terdapat padepokan yang bisa digunakan untuk peristirahatan atau tempat pertemuan (bisa juga pertemuan para kera :D) namun kondisinya rusak parah dan jalan untuk mengakses hutan kera banyak sekali tumpukan ranting pohon yang disebabkan angin besar yang menerpa pepohonan hingga roboh saat hujan satu minggu sebelum saya dan rombongan blogger kesana. sehingga kondisi hutan kera pada saat itu sangat tidak nyaman dipandang apalagi untuk spot foto tidak saya rekomendasikan.

Petilasan Hutan Nepa
Petilasan Raden Segoro di Hutan Nepa - Foto: Wulan Kenanga
Penyusuran hutanpun semakin jauh hingga akhirnya saya dan teman blogger terhenti disalah satu pohon besar yang mana pohon itu dikelilingi batu dan banyaksekali kain yang menempel pada pohon besar itu, karena penasaran saya menghampiri juru kunci tadi dan menanyakan tentang pohon besar itu lalu beliau menjelaskan bahwa pohon besar itu adalah petilasan Raden Segoro yang konon katanya apabila kita menyampaikan nadzar ditempat itu dan nadzar itu terjadi maka kita harus kembali ketempat itu untuk berdoa atau sekedar membaca surat Al-Fatihah. saya harap tulisan ini tidak melunturkan kepercayaan anda kepada Allah SWT. ini hanyalah mitos untuk melengkapi cerita perjalanan saya saja.

Hari mulai gelap, sholawat sebelum Adzan Maghrib sudah mulai terdengar sepertinya kami harus segera keluar dari hutan ini karena lampu penerangan didalam hutan ini sudah banyak yang mati dan sebagian lagi tiang penyangganya patah yang disebabkan angin besar beserta hujan satu minggu yang lalu, singkat cerita. kami langsung menuju homestay untuk istirahat karena malam harinya akan ada forum diskusi bersama aparat desa dan pejabat BPWS mengenai perkembangan dan pembangunan Hutan Kera dan Pantai Nepa kedepannya.

Pantai Nepa Sampang 

Pantai Nepa Sampang
Volly Pantai di Pantai Nepa - Foto: Grup Whatsapp

Masih di Desa Batioh dan masuk dihari kedua acara FamsTrip #JejakBPWS #MenduniakanMadura , kami blogger Indonesia menikmati keindahan Pantai Nepa dipagi hari, ada beberapa blogger yang sudah sampai dipantai sejak dini hari untuk merekam Sunrice dari tepian pantai nepa dan sebagian lagi baru merapat pada jam 5 pagi, ada beberapa permainan yang disiapkan oleh panitia pagi itu salah satunya Outbond dan Volly Pantai semua peserta kelihatan bahagia dan bersemangat untuk melanjutkan perjalanan menapaki pembangunan BPWS di Madura. FamsTrip  hari kedua ini ada tiga lokasi yang akan kami kunjungi diantaranya Air Terjun Toroan, TPI Pasongsongan dan Pelabuhan Dungkek untuk menyebrang ke Gili Iyang.

Baca lanjutan cerita dipostingan  Air Terjun Toroan dan Budaya Carok

Tragedi sebelum Menduniakan Madura


Menduniakan Madura
Panitia #Menduniakan Madura
H-1 semua panitia harus sudah berada di basecamp Plat-M karena malam harinya akan di adakan rapat besar. hari senin tanggal 21 November 2016 saya dan tiga orang blogger asal Pamekasan berangkat ke Bangkalan. kita berempat berangkat siang hari karena ada sebagian yang masih mengurus perizinan untuk libur kerja selama 5 hari termasuk saya sendiri, Alhamdulillah diberikan izin meski harus standby di depan TeamViewer untuk memantau kinerja karyawan.

Sesampainya di basecamp ternyata teman-teman panitia yang lain sudah pada kumpul dan sambil lalu menyiapkan, melengkapi dan menceklist kebutuhan untuk acara esok harinya. selang beberapa menit setelah teman-teman blogger Pamekasan sudah merasakan istirahat mas wahyu langsung memberikan kabar kepada semua panitia yang datangnya dari salah satu pejabat BPWS bahwa acara yang seharusnya dimulai jam 10.00 wib harus dipending hingga jam 12.00 wib karena tempat yang semula akan kita gunakan untuk pembukaan diambil alih oleh pihak BPWS untuk digunakan rapat. kita sempat buntu memikirkan solusi mengenai kabar buruk itu, namun ada beberapa panitia yang mengusulkan untuk mengisi kekosongan itu dengan mengajak semua peserta mengelilingi kawasan kaki jembatan Suramadu sisi Surabaya dan itulah menjadi alternatif utama agar peserta tidak boring, setelah terpecahkan lalu mas wahyu langsung memberikan job kepada panitia, mulai dari yang bertugas menyiapkan dikantor BPWS, menyiapkan sarapan untuk peserta dan juga yang bertugas untuk penjemputan peserta. ada tiga titik penjemputan dan kebetulan saya kebagian menjemput peserta di Terminal Purabaya dengan modal nomor whatsapp dan Odheng khas Madura, ada 5 orang blogger yang harus saya jemput yaitu kang Pardi dari Ponorogo, Mas Halim dari Solo, mas Wijaya dari Rembang, kak Ndop dari Nganjuk dan terakhir Neng Silviana dari Kediri. kira-kira jam 9 pagi semuanya baru berkumpul, bersama blogger Inova saya langsung menggiring peserta kemobil dan dilanjut menuju BPWS.

lalu kekhawatiran muncul lagi bagaimana kalau rapat BPWS itu tidak selesai sampai jam 12, sepertinya acara akan amburadul jika hal itu terjadi. waktu menunjukkan jam 10 lewat masih belum ada kabar mengenai rapat yang membuat sebagian panitia mulai panik, sehingga diambillah alternatif kedua yaitu yang awalnya pembukaan acara dihadiri semua peserta harus diambil perwakilan setiap kota untuk mengikuti acara pembukaan karena tempat yang digunakan cukup sempit dan sebagian lagi peserta diajak jalan-jalan dikawasan kaki jembatan Suramadu sisi Surabaya agar merekatidak merasa bosan jika harus menunggu.

Jejak BPWS Menduniakan Madura
Pembukaan Jejak BPWS Menduniakan Madura
acara pembukaanpun dimulai pada jam 11.00 wib yang dihadiri kurang lebih 15 peserta dan 6 panitia yang dibuka langsung oleh pejabat BPWS yaitu Bapak Ari sekaligus memberikan penjelasan terkait diadakannya acara jejak BPWS yang bekerjasama dengan Plat-M.
Plat-M diajak kerjasama oleh Badan Pengembangan Wilayah Surabaya – Madura (BPWS) ingin mengenalkan jejak program-program BPWS yang sudah dilakukan di Madura. Sederhananya BPWS bertanggung jawab untuk memajukan baik itu Kabupaten Bangkalan, Sampang, Pamekasan ataupun Sumenep. Mulai dari sektor industri, pariwisata, akses transportasi hingga berbagai pembangunan insfrastruktur di Madura telah dikembangkan. Banyak yang sudah selesai, juga tidak sedikit yang sedang berjalan dan akan berjalan.
Maka dari itu, BPWS berinisiatif mengajak blogger berkeliling empat kabupaten di Madura untuk mengeksplorasi jejak-jejak pembangunan BPWS melalui acara MENDUNIAKAN MADURA 2016.
Bapak Ari cukup jelas dalam memaparkan program-program BPWS seperti KKM (Kawasan Khusus Madura) dan KKJSM (Kawasan Kaki Suramadu sisi Madura).

baca kelanjutannya pada Jejak BPWS Menduniakan Madura